Wednesday, April 6, 2011

Disiplin pada anak



Memiliki anak yang disiplin adalah dambaan setiap orang tua, segala cara pun dilakukan untuk mendisiplinkan anak, memang mendisiplinkan anak ga gampang,  di beberapa forum psikologi, para orang tua menanyakan bagaimana menghentikan anak yang  merengek, membantah, ngamuk dan lain sebagainya. ada juga beberapa anak yang "jago kandang", kalau di rumah atau di dekat orang tuanya bertingkah, berani dan sok jago, namun jika ada suatu acara lomba atau tampil di suatu acara langsung menciut, takut bahkan menangis. Sang ibu pun sampai gemes setengah mati, menghadapi tingkah polah si anak. apa yang salah pada si anak....
apakah tidak sebaiknya kita melihat pada diri kita sebagai orang tua, sudah benarkah kita mendidik anak? bukankah anak itu bagaikan selembar kertas putih, kita lah sebagai orangtua yang akan membentuk mereka. apakah kelak mereka akan menjadi anak anak yang berkepribadian baik, berpendirian kuat, dan senantiasa di jalur yang benar...  untuk mencapai tujuan itu semua, disiplin memegang peranan yang sangat penting. maka dari itu.. mari disiplin kan anak anak kita sedini mungkin.
sekali lagi tidak mudah memang...
yuk, kita intip beberapa tips n trik dari berikut ini:

1. Tegas
jika kita melarang anak anak melakukan sesuatu, berikan juga alasan alasan yang masuk akal. jelaskan pada mereka dengan bahasa yang dimengerti oleh anak anak kita, sesuaikan dengan umur si anak, tapi tetap alasan tersebut harus masuk akal, bukan alasan yang dibuat buat atau sekedar "mengarang" saja agar si anak menurut. karena hal ini akan berakibat buruk nantinya.

2. Kompak
Mendisiplinkan anak perlu kekompakan antara Ayah dan bunda. karena mereka akan bingung jika sang bunda mengajarkan anak untuk tidak membeli permen sembarangan, sementara sang ayah membolehkannya. akibatnya, bukan disiplin yang kita dapatkan, justru sang anak dengan leluasa akan mengatakan: kata ayah boleh kok!
uuups.... kalau sudah begini akan ada lagi bantahan bantahan lainnya....

3. Kompromi
Anak-anak tak selalu bisa mengatasi dan membedakan antara persoalan yang besar dan kecil. jadi berkompromi dan mengertilah pada kondisi mereka. Tindakan kompromi akan membuat anak-anak menjadi lebih mudah menghadapi persoalan yang lebih besar nantinya. Misalnya jika mereka lupa merapikan mainan mereka, cukup jelaskan : Jangan lupa rapihkan mainanmu dong sayang... 

4. Beri Bimbingan
Beritahukan pada anak anak, hal mana saja yang boleh dilakukan. mana saja yang tidak boleh dilakukan. tentunya hal ini di ajarkan secara bertahap. kita mulai saja dengan hal2 sepele dirumah, misalnya bangun tidur pagi, tidak dibenarkan langsung nonton TV, berikan alasannya, karena saat bangun tidur mata kita belum cukup kuat untuk menerima pancaran cahaya dari TV, hal ini dapat merusak mata kita, sebaiknya kita mandi dulu, agar badan segar....
atau sepulang sekolah, langsung ganti baju sekolah dengan baju rumah.
jika sudah terbiasa, bisa ditambahkan dengan aturan berikutnya, misalnya pulang sekolah-ganti baju-baju kotor langsung di letakkan di bak pakaian kotor.

5. Hadapi Rengekan
Katakan pada anak-anak untuk tidak merengek saat meminta sesuatu dan tegaskan pada mereka,  bahwa dengan merengek mereka justru tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ajarkan anak anak kita untuk meminta sesuatu dengan cara yang baik dan sopan.

6. Beri Hadiah dan hukuman
Jika aturan sudah diberikan... tinggal kita mengawasi pelaksanaanya. sepakati bersama hadiah apa yang akan diberikan jika si anak mengikuti aturan dirumah alias bertingkah laku baik...
juga sepakati hukuman jika mereka tidak menjalankan tugasnya atau bertingkah tidak baik.
hukuman tidak dengan memukul, tapi dengan sesuatu yang lebih mendidik, misalnya tidak boleh main game kesukaan selama 1 hari.

7. jangan melakukan kekerasan fisik
Tamparan atau pukulan tidak hanya melukai fisik mereka terlebih lagi akan berpengaruh buruk bagi diri anak, juga Anda. Anak yang pernah ditampar orangtuanya akan merasa lebih menderita, dari pada perasaan tidak dihargai atau depresi sekalipun. Tindakan ini pun sekaligus bisa mengajarkan, secara tidak langung pada anak, untuk menyelesaikan segala persoalan dengan cara kekerasan.

8. Contoh yang baik
anak cenderung memiliki sifat meniru, maka jadilah contoh yang baik untuk anak anak kita. misalnya kita pun selalu langsung merapihkan majalah yang kita baca, jika selesai membacanya. karena hal ini akan ditiru si anak, o iya, bundaku habis baca majalah langsung dirapihkan, aku juga kalau habis main harus langsung dirapihkan.... enak kan.... :)

9. Jangan Lakukan
Setiap orangtua pasti mencintai anaknya, permata hati mereka... rasanya tidak ada yang melebihi anak anak mereka.  namun cinta dan sayang yang berlebihan akan menjadi bumerang buat si anak.
karena terlalu sayang, tidak tega melarang anak untuk tidak selalu makan snack ga jelas... akibatnya anak bolak balik radang tenggorokan, amandel dsb, karena terlalu cinta tidak mampu menegur sang buah hati jika melakukan kesalahan, akibatnya si anak tidak pernah tau kalau dia berbuat salah...yang berakibat fatal nantinya. karena teramat mengasihi tidak kuasa memaksa anak merubah sifat buruk mereka, akibatnya..... si anak akan semakin jauh dari jalur yang diharapkan.
 hhuuuuffttt.... kayaknya banyak contoh disekeliling kita untuk kasus ini.
yang rugi adalah si anak, akibat orang tua yang tidak tegas, si anak jadi korban.

10. Lakukan dengan Cinta
segala sesuatu yang kita lakukan pada anak anak tentunya karena cinta. mendisiplinkan mereka karena cinta, melarang atau bahkan menghukum mereka pun karena cinta.
terkadang pujian, pelukan dan ciuman adalah hadiah terindah yang lebih dibutuhkan anak anak kita. karena mereka akan merasa dimiliki, mereka akan tumbuh menjadi sosok yang penuh cinta. berdasarkan beberapa penelitian, anak yang tumbuh dengan penuh cinta akan menghasilkan anak yang mampu menghadapi persaingan hidup dengan lebih mudah.

yang tidak kalah penting adalah kita harus mengerti kondisi anak anak kita. Hubungan dan komunikasi yang baik dengan anak sangat perlu dilakukan. Yang bisa kita lakukan hanyalah bertanya kepada anak, apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa dia berbuat begitu. Pada beberapa kasus, anak-anak dapat berterus terang tentang masalahnya kepada orangtua. Namun, jika dia tak mau berterus terang, sementara Anda tidak mempunyai cara lain untuk bertindak, tetaplah berpikir positif.  tetap dampingi mereka, kehadiran kita sebagai orangtua disisi mereka adalah hal yang tidak ada duanya. Semoga anak anak kita kelak dapat menjadi anak yang membanggakan kita.

Thanks
Riri









No comments:

Post a Comment